Banyak praktisi memanfaatkan PBN untuk SEO karena memandang PBN sebagai cara realistis mendapat backlink. Tidak mengherankan kalau akhir-akhir ini PBN menjadi salah satu model jasa SEO yang banyak dicari. Meskipun begitu kebanyakan pakar dan konsultan SEO meyakini bahwa PBN merupakan salah satu teknik SEO yang melanggar panduan Google sehingga website yang menggunakannya beresiko tinggi terkena penalti.

Mau mendapatkan ranking yang bagus secara organik pada Search Engine Result Page alias SERP Google? Praktisi, pakar, konsultan SEO di manapun sepakat kalau link building merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam SEO. Bahkan Google sendiri pernah mengkonfirmasi kalau backlink merupakan satu dari tiga faktor paling penting yang digunakan Google dalam menentukan ranking. Dua lainnya konten dan RankBrain.

Menyadari kalau backlink merupakan faktor SEO yang sangat menentukan dalam mendongkrak ranking membuat praktisi SEO bekerja keras untuk mendapatkannya. Sering kali sampai mereka lupa kalau tidak semua backlink memberikan efek positif pada SEO.

Backlink sangat ampuh dalam SEO, tapi mendapatkan backlink yang berkualitas sehingga ampuh mendongkrak ranking bukan hal yang mudah. Backlink yang ampuh harus sejalan dengan panduan Google yang sangat gamblang dijelaskan dalam Webmaster Guidelines-nya.

Itu dia kuncinya, backlink berkualitas.

Tapi mendapatkan backlink bagi kebanyakan website bukanlah hal yang mudah. Apalagi mendapatkan backlink berkualitas tinggi. Kalau banyak pengelola website menganggap membangun konten itu pekerjaan berat, mendapatkan backlink lebih berat lagi.

Teori SEO yang menyarankan kita cukup fokus dengan konten saja, kalau konten kita berkualitas tinggi maka backlink akan datang dengan sendirinya, pada kenyataannya hanya berlaku untuk website-website terkemuka dengan tingkat otoritas tinggi yang sebetulnya sudah tidak terlalu memerlukan tambahan backlink hanya sekedar untuk mendongkrak ranking. Untuk kebanyakan website, teori itu hanya mimpi di siang bolong.

Karena itu banyak praktisi SEO memilih untuk menggunakan teknik yang bertentangan dengan panduan Google untuk mengumpulkan backlink. Tujuan akhirnya tentu peningkatan ranking yang membawa aliran traffic pengunjung menuju website.

Salah satu teknik SEO yang banyak digunakan untuk mendapat baklink meskipun bertentangan dengan panduan Google adalah Private Blog Network yang oleh para praktisi SEO Indonesia lebih sering disebut dalam bentuk singkatannya, PBN.

Tertarik menggunakan PBN untuk SEO?

Sebelum memutuskan untuk menggunakannya, sebaiknya kita fahami dulu apa itu PBN serta resiko penggunaanya untuk kepentingan SEO.

Pengertian PBN

PBN adalah private blog network. Salah! Itu bukan pengertian apalagi definisi PBN. Itu kepanjangannya.

Jadi apa itu PBN?

PBN adalah sekumpulan website yang sengaja dibuat untuk menjadi sumber backlink bagi website tertentu yang biasanya merupakan website komersial yang rankingnya ingin ditingkatkan. Sebut saya “website sasaran”. Umumnya website PBN dibuat dengan menggunakan mesin blog seperti wordpress. Link ke website sasaran biasanya ditempatkan pada posting yang kontennya sengaja dibuat sangat relevan dengan website sasaran.

Kelebihan yang biasanya menjadi alasan penggunaan PBN adalah kendali penuh yang kita miliki pada sumber backlink, sesuatu yang tidak kita dapatkan dengan teknik link building lain. Kenapa? Karena dengan PBN, website-website yang menjadi sumber backlink adalah milik kita sendiri. Sementara dengan teknik link building lain, sumber backlink tidak bisa kita kendalikan dan atur-atur sendiri semau kita.

Secara umum kualitas backlink PBN bisa dikatakan rendah dan sengaja dibuat untuk memanipulasi search engine. Para pengguna PBN biasanya menggunakan sejumlah cara agar backlink yang dibuat kualitasnya lebih baik, dan Google gagal mendeteksi praktek manipulasi yang dilakukan sehingga terbebas dari resiko penalti.

Kualitas Backlink PBN

Untuk meningkatkan kualitas backlink, biasanya website PBN menggunakan “expired domain”. Domain ada masa berlakunya. Jika masa berlakunya habis alias expired dan tidak diperpanjang, orang lain bisa membeli dan mendaftarkan domain itu sebagai miliknya. Expired domain adalah domain yang sudah habis masa berlakunya dan tidak diperpanjang lagi oleh pemilinya.

Karena domain-domain itu tadinya memiliki website, ada konten dan backlink-nya, saat domain itu expired, link dari website-website biasanya masih ada, bahkan masih tercatat di dalam database Google. Kalau domain-domain itu begitu expired langsung kita daftarkan ulang dan kita buatkan website baru, website baru itu akan langsung menikmati tingkat otoritas tinggi karena limpahan backlink yang sudah ada sebelumnya.

Manfaatnya? Saat kita membuat backlink dari website bekas expired domain itu ke website kita, kualitas backlink itu bagus, karena datang dari website yang memiliki profil backlink yang mumpuni.

Untuk hal ini, biasanya yang dianggap kunci penting adalah mendapatkan expired domain yang profil backlinknya bagus, memiliki backlink dari website-website dengan tingkat otoritas tinggi. Domain itu juga tidak boleh punya “catatan kriminal” yang membuatnya mungkin mendapat penilaian buruk dari Google.

Mengamankan PBN

Praktek PBN untuk SEO ini layaknya bermain kucing-kucingan dengan Google. Sang raksasa mesin pencari itu terus mengembangkan teknologi untuk dapat mengidentifikasi jejak yang mengindikasikan kalau backlink ke sebuah website merupakan hasil dari praktek black hat SEO termasuk PBN.

Footprint adalah istilah yang dipakai untuk merujuk pada jejak praktek blackhat SEO yang terlarang itu.

Mereka yang menggunakan PBN untuk SEO menggunakan berbagai cara untuk menyembunyikan footprint agar tidak terendus Google. Pada prinsipnya teknik yang biasa digunakan adalah membuat agar website sumber backlink dan website tujuan link tidak nampak dimiliki oleh orang yang sama.

Namanya juga “network”, PBN melibatkan banyak website, bukan hanya satu dua website saja. Karena memang backlink dari satu dua website saja tidak akan cukup untuk mendongkrak rangking. Untuk menjaga footprint, jejak kepemilikan antara deretan website PBN yang menjadi sumber backlink ke sebuah website juga pastinya “diamankan”.

Beberapa upaya mengamankan PBN yang biasa digunakan diantaranya:

  • Masing-masing website PBN dihosting pada server penyedia hosting yang berbeda-beda.
  • Masing-masing domain didaftarkan melalui registrar yang berbeda-beda dengan data kepemilikan yang didaftarkan berbeda pula.
  • Menggunakan extension domain alias TLD yang berbeda-beda.
  • Karena umumnya website PBN menggunakan sistem CMS seperti WordPress, template yang digunakan di masing-masing website berbeda-beda.
  • Profil link masing-masing website dibuat berbeda-beda. Selain posting dengan link ke website tujuan, dibuat juga posting-posting tanpa link dan posting dengan link ke website-website lain.

Masih banyak cara-cara lain yang dipakai pengguna PBN untuk menyembunyikan footprint. Pada dasarnya adalah membuat website-website itu seperti berdiri sendiri, bukan bagian dari sebuah jaringan.

Perlu diingat lagi. Tujuan PBN adalah agar website kita bisa mendapat backlink yang memenuhi standar kualitas yang diharapkan. Anchor text kita tentukan sendiri. Konten halaman tempat backlink disisipkan kita buat sendiri. Halaman web di dalam website tujuan pun bisa kita atur sesuai kebutuhan.

Enak toh?

Sayangnya praktek link building dengan PBN ini jelas-jelas melanggar panduan Google yang dapat dibaca pada Google’s Webmaster Quality Guidelines. Pastinya kalau melanggar ya kalau sampai ketahuan akan dijatuhi penalty. Bukan hanya website PBN yang menjadi sumber backlink, tapi juga website yang menjadi tujuan backlink.

Karena itu banyak pakar SEO menyarankan untuk menghindari penggunaan PBN sebagai sumber backlink.

PBN untuk SEO Melanggar Panduan Google

Siapa sih Google koq ngatur-ngatur orang? Google sebetulnya hanya mengatur sistemnya sendiri. Di dalam search engine besutannya, Google memilih website-website yang memenuhi kriteria yang dibuatnya, mendapat ranking yang bagus. Sebaliknya website-website yang memenuhi kriteria itu tidak mendapat ranking bagus, bahkan mungkin sama sekali tidak muncul dalam hasil pencarian.

Suka-suka dia dong. Kalau mau muncul di hasil pencarian Google, ya ikuti kemauannya. Karena ranking tinggi di Google biasanya membawa aliran pengunjung website yang sebagian diantaranya terkonversi menjadi penghasilan, kita terpaksa “nurut”.

Dari sudut pandang Google, PBN termasuk ke dalam sesuatu yang disebut sebagai “link scheme”. Panduan lengkap Google mengenai link scheme dapat dilihat disini Google’s Link Scheme guidelines.

Secara ringkas dalam dokumen itu dijelaskan bahwa segala bentuk link yang dibuat dengan tujuan memanipulasi atau ranking website dalam hasil pencarian Google masuk kedalam kategori link scheme dan merupakan bentuk pelanggaran terhadap Google’s Webmaster Guidelines. Diisebutkan juga bahwa pelanggaran tersebut tidak hanya terbatas pada link yang masuk ke sebuah website tetapi juga link yang keluar dari sebuah website.

Jadi prinsip dasarnya adalah link seharusnya merupakan referensi bagi pengunjung website, bukan untuk mempengaruhi ranking.

Private Blog Network alias PBN ini terang benderang masuk ke dalam kategori pelanggaran ini, karena link dari website PBN memang sengaja dibuat dengan tujuan untuk mempengaruhi ranking.

Masalah utama dari PBN adalah kenyataan bahwa PBN ditujukan untuk memanipulasi sistem. Google juga memberikan petunjuk agar website lain memberikan link yang berkualitas ke website kita. Cara mendapat backlink yang baik dan benar menurut Google.

Dalam arahan Google, satu-satunya cara untuk mendapatkan backlink berkualitas untuk website kita adalah mengisi website itu dengan konten berkualitas yang dengan sendirinya menarik popularitas dikalangan pengguna internet. Backlink ke website kita diberikan oleh para pemilik website lain karena mereka menganggap konten dalam website kita bermanfaat bagi pengunjung website mereka. Semakin menarik dan bermanfaat konten di dalam website kita, semakin besar kemungkinan para pemilik website lain menilai website kita sebagai sumber informasi yang bermanfaat bagi pengunjungnya sehingga tanpa diminta dengan sendirinya memberikan link ke website kita.

Link dari PBN tidak diberikan secara sukarela oleh para pemilik website lain karena kualitas konten dalam website kita. Kalaupun kita merasakan pengaruh positif dari backlink PBN, efeknya tidak akan bertahan lama.

Bahaya PBN untuk SEO

Yang namanya pelanggaran, kalau tetap dikerjakan tentulah ada konsekuensinya. Ngotot menggunakan PBN untuk SEO yang jelas-jelas merupakan pelanggaran terhadap panduan Google jelas ada resikonya.

1. Backlinks Diabaikan Google

Backlink yang didapat dari PBN kemungkinan akan dimasukkan Google ke dalam kategori yang dinamakan “unnatural links”. Kurang lebih artinya link yang diperoleh dengan cara yang tidak alamiah. Biasanya unnatural link akan diabaikan, dianggap tidak ada, sehingga tidak membantu mendongkrak ranking.

Biasanya Google hanya mengabaikan unnatural links. Tetapi kalau praktek manipulatifnya dinilai berlebihan, Google bisa saja menerapkan tindakan yang lebih keras.

Apa yang terjadi kalau Google mengabaikan backlink? Sederhana saja. Backlink itu tidak akan berperan dalam mendongkrak ranking. Artinya usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkan backlink itu terbuang sia-sia.

2. Website Kita Dijatuhi Hukuman – Kehilangan Ranking

Penggunaan teknik link building yang masuk ke dalam kategori pelanggaran secara masif biasanya akan berhadapan dengan penalti alias hukuman yang dijatuhkan melalui evaluasi yang dilakukan oleh anggota tim Google, manusia bukan algoritma. Penjatuhan hukuman lewat evaluasi secara manual seperti ini biasa disebut sebagai “manual action”.

Apa itu manual action? Panduan Google menjelaskan sebagai berikut:

“Google issues a manual action against a site when a human reviewer at Google has determined that pages on the site are not compliant with Google’s webmaster quality guidelines. Most manual actions address attempts to manipulate our search index. Most issues reported here will result in pages or sites being ranked lower or omitted from search results without any visual indication to the user.”

Manual action adalah bentuk penalti kelas berat yang bisa menyebabkan ranking sebuah website atau halaman tertentu dalam sebuah website diturunkan. Sejauh mana penurunannya tentu tergantung dari seberapa berat pelanggaran yang teridentifikasi tim yang menjatuhkan penalti melalui manual action itu.

Jika pelanggarannya dianggap sangat berat, penalti yang dijatuhkan bisa lebih dari sekedar penurunan rangkin tapi dikeluarkan dari indeks Google. Website yang dijatuhi penalti ini bukan hanya sekedar turun rankingnya tetapi sama sekali tidak muncul dalam hasil pencarian Google.

Cara Pulih dari Manual Action

Pulih dari manual action itu sangat sulit. Banyak praktisi SEO bahkan lebih memilih untuk membangun website baru lengkap dengan konten dan backlink-nya daripada berusaha memulihkan website yang kena manual action.

Tapi bukan berarti sama sekali tidak.mungkin. Ada banyak alasan yang membuat orang memilih untuk bersusah payah berusaha memulihkan website yang terkena manual action.

Google tidak akan memberi tahu secara spesifik masalah yang menyebabkan website dijatuhi penalti lewat manual action. Bahkan tidak akan memberi tahun kalau website dijatuhi penalti. Kita hanya bisa menduga-duga. Kalau ranking tiba-tiba jatuh apalagi website menghilang dari hasil pencarian, kemungkinan besar website terkena penalti lewat manual action.

Lalu kita harus menganalisa sendiri untuk mancari lalu menghilangkan hal-hal yang mungkin menyebabkan Google menjatuhkan penalti. Bukan pekerjaan mudah.

Mereka yang secara ekstensif melakukan aktivitas SEO biasanya melakukan banyak hal, termasuk link building, secara terus menerus. Bayangkan kalau website kita memiliki ratusan bahkan ribuan backlink, harus kita evaluasi satu per satu, lalu yang terindikasi bermasalah kita harus hubungi pengelola website yang menjadi sumber link yang terindikasi bermasalah itu untuk meminta pengelolanya menghapus link itu.

Baru setelah itu kita bisa mengajukan permohonan untuk evaluasi ulang pada fihak Google. Untuk kebutuhan itu Google menyediakan form pengajuan khusus yang tersedia di reconsideration request.

Sayangnya kalaupun proses ini berhasil, Google mencabut penaltinyang dijatuhkan, kemungkinan besar ranking website kita tidak kembali ke posisi yang sama seperti sebelum dijatuhi penalti. Kenapa? Karena peran backlink yang terpaksa dihapus sebelum kita mengajukan permintaan evaluasi ulang sudah tidak ada lagi.

Masalah backlink juga bisa mengakibatkan ranking website kita terkena penyesuaian saat Google menerapkan update algoritma.

Mengapa Masih Banyak yang Menggunakan PBN untuk SEO?

Melihat manfaatnya bisa jadi sangat kecil malah tidak ada sama sekali sementara reaikonya demikian besar, mungkin kita bertanya-tanya mengapa masih banyak praktisi SEO yang tetap menggunakannya. Ada juga konsultan SEO yang dengan yakin mengkategorikan PBN sebagai white-hat SEO. Bahkan sejumlah penyedia jasa SEO yang menjamin kalau mereka hanya menggunakan teknik SEO white-hat ternyata menggunakan PBN.

1. Link-Building itu Udah Ribet Belum Tentu Dapat Pula

Seperti selintas sudah disebut, backlink yang bagus didapat sebagai “penghargaan” terhadap konten berkualitas dan menarik. Membuat konten berkualitas dan menarik itu bukan hal yang mudah. Bisa jadi makan banyak waktu, bisa jadi menghabiskan biaya besar.

Apakah setelah kita punya konten yang berkualitas dan menarik kemudian kita tiba-tiba jadi kebanjiran backlink? Jelas nggak juga kan? Kita harus membuat banyak orang menemukannya. Sudah cukup? Belum lah! Kita harus membuat mereka yang menemukan mau membaca, melihat, atau menontonnya. Jadi backlink? Belum juga! Karena mereka yang membaca, melihat, atau menonton itu juga belum tentu memberikan backlink. Bisa jadi malah copas, menjiplak, atau menirunya.

Jadi kapan dapat backlinknya?

Biasanya selain konten berkualitas biasanya strategi link building white-hat melibatkan public relation digital, reklamasi link, pemanfaatan “broken link”, membuat ” resource link”, dan lain-lain. Kalau mau dibahas, masing-masing akan menjadi topik bahasan tersendiri.

Apapun teknik yang digunakan, pada akhirnya tetap melibatkan komunikasi intensif dengan jurnalis atau pengelola website dan berbusa-busa meyakinkan mereka agar mau membuat link ke website kita atau mungkin halaman tertentu di dalamnya. Kecuali kalau kita memang mengelola website yang sudah menjadi referensi standar, otoritasnya tinggi, itulah perjuangan berdarah-darah link building yang baik dan benar.

Itupun tetap saja, tidak ada jaminan kalau setelah jungkir balik kemudian linknya kita dapatkan. Kebanyakan webmaster malas-malasan melayani komunikasi yang berhubungan dengan permintaan link. Jangankan diberi, jangankan direspon, sering kali dibaca pun tidak.

PBN menghapus segala kerja keras dan ketidakpastian itu.

2. Link Kita Ngatur Sendiri

Dalam banyak referensi, backlink untuk SEO itu bukan hanya soal jumlah, kualitas link jauh lebih penting. Ada sejumlah parameter backlink yang bisa kita atur sendiri kalau kita menggunakan PBN untuk link building. Sementara kalau kita mencari backlink dengan cara yang normal, parameter-parameter itu diatur oleh webmaster mereka.

Salah satu parameter penting yang turut menentukan kualitas backlink adalah “anchor text”. Para praktisi dan pakar SEO berpengalaman biasanya menyarankan untuk mengatur bauran tertentu dalam hal anchor text backlink. Sebagian persis seperti keyword yang ditargetkan, sebagian tidak persis tapi secara kontekstual relevan, sebagian menggunakan URL-nya langsung, sebagian lagi menggunakan kata yang sama sekali tidak ada hubungannya seperti “click here” misalnya.

Kalau kita menggunakan teknik link building yang sesuai panduan Google, kemungkinan besar mereka menggunakan anchor text yang tidak ada hubungannya dengan keyword yang kita sasar. Judul artikel, nama perusahaan, merk produk, URL langsung, atau malah hanya sekedar “click here” itu tadi.

Sementara kalau kita menggunakan PBN, kita bisa bebas mengatur sesuai keinginan.

Perlu dicatat bahwa sebetulnya setelah penerapan update algoritma Penguin, keyword dalam anchor text sudah tidak penting lagi.

Mitos Seputar PBN

Dengan resikonya yang demikian besar dengan mudah kita bisa mengatakan “Katakan tidak pada PBN!” Tapi mengingat pentingnya backlink dan kesulitan mendapatkannya, masih banyak yang tertarik menggunakan PBN untuk SEO. Pembicaraan seputar PBN tetap menjadi aalah satu topik hangat dalam komunitas SEO.

1. PBN Tidak Menaikkan Ranking

PBN memang melanggar panduan Google. Tapi tidak berarti link dari PBN tidak membantu meningkatkan ranking. Pada prakteknya, banyak pengguna PBN merasakan efek positif yang signifikan. Mungkin itu sebabnya PBN masih banya penggunanya.

Hanya saja efek PBN kemungkinan besar hanya sementara saja.

Link building dengan PBN membawa resiko yang sangat besar. Kalau sekedar turun kembali ke ranking sebelum adanya backlink dari PBN mungkin masih lumayan. Kalau turunnya justru lebih buruk dari itu? Atau malah menghilang sama sekali dari hasil pencarian?

Ranking yang meningkat sebagai efek dari PBN hanya menunggu saat algoritma Google mendeteksi dan efek positif itupun akan menguap. Itupun masih untung. Bisa jadi deteksi sistem itu disusul dengan evaluasi secara manual yang berujung manual action.

Ambyar deh.

2. Google Dapat Mendeteksi PBN dengan Mudah

Mereka yang membangun dan menggunakan PBN sangat tahu kalau algoritma Google bisa mendeteksi PBN dengan mudah melalui jejak digital alias footprint. Parameter-parameter yang mudah dilacak seperti penggunaan hosting dengan IP address berbeda sampai tingkat tertinggi, penggunaan domain sengan TLD berbeda-beda, pendaftaran domain dengan nama berbeda melalui registrar berbeda pula, sampai penggunaan “mesin” CMS dan template berbeda pasti sudah “diamankan”.

Tapi ada hal yang juga mudah dideteksi tapi sulit ” diamankan”. Google bisa dengan mudah mendeteksi adanya sekumpulan website yang memiliki link ke satu website yang sama. Ini indikasi awal. Kalau kemudian website-website itu dianalisa kemudian didapati kalau link-link tersebut memiliki kesamaan pola pada anchor textnya, indikasinya semakin kuat. Analisa lebih lanjut terhadap website-website itu dapat diperdalam. Kalau kontennya cenderung tipis dan tidak ada relevansinya dengan konten website yang menjadi target link, kesimpulannya sudah sangat pasti.

3. Link Berbayar Tidak Sama dengan PBN

Ada banyak pemilik blog yang menawarkan posting berbayar lengkap dengan link ke website sesuai permintaan. Pasti pernah dengar yang namanya “guest post” dong? Nah guest post ini ada juga yang berbayar. Portal-portal media komersial juga banyak yang menawarkan kolom editorial yang dilengkapi dengan link.

Link berbayar seperti itu tidak termasuk PBN. Googlepun tidak menganggap praktek seperti ini sebagai pelanggaran. Tapi ada syaratnya. Harus secara eksplisit ditandai kalau itu berbayar. Caranyapun sederhana saja. Tinggal sisipi rel=”nofollow” atau rel=”sponsored” saja untuk menghalalkannya.

Masalahnya ada juga pemilik blog yang menawarkan posting berbayar dan ternyata blog yang digunakannya merupakan bagian dari PBN.

Hati-hati … berbahaya.

4. Private v.s. Public Blog Network

Sebetulnya keduanya merujuk pada barang yang sama, sekumpulan blog atau website yang dibuat untuk menjadi sumber backlink website lain. Bedanya kalau private dimiliki dan dikelola untuk kebutuhan sendiri, menjadi sumber website untuk website sendiri.

Ada blog network yang dibuka untuk umum. Dengan membayar sejumlah harga tertentu pemilik website dapat menggunakan website-website di dalam network sebagai sumber backlink ke website miliknya. Artinya website-website dalam blog network itu akan berisi link ke banyak website.

Setelah tahu persamaannya, apa perbedaan Private Blog Network dan Public Blog Network? Bahayanya jauh lebih besar.

5. Punya Beberapa Website dan Saling Terhubung Lewat Link? Itu bukan PBN.

Orang atau perusahaan bisa jadi memiliki dan mengelola beberapa unit usaha yang masing-masing memiliki website sendiri. Wajar kalau diantara website-website itu saling terhubung melalui link.

Apakah itu termasuk PBN? Bukan. Apakah itu melanggar panduan Google? Tidak. Apakah mempengaruhi ranking? Tidak juga. Apakah berbahaya? Tidak jika link-nya dibuat secara wajar sesuai dengan situasi bisnisnya.

Esensi PBN bukan pada memiliki beberapa unit usaha. Bukan juga pada mengelola sejumlah website. Esensi PBN adalah membuat sejumlah website dengan tujuan dijadikan sumber backlink untuk memanipulasi ranking.